kontemplasi

30S Sebuah Refleksi Tentang PKI

Saya awalnya tak mau ambil pusing dengan 30 September yang ramai dibahas dimana-mana. Dari mulai ibu rumah tangga sambil berbelanja, linimasa sosial media sampai acara di televisi yang menghadirkan tokoh bangsa. PKI atau Partai Komunis Indonesia ramai diperbincangkan karena disebut- disebut mulai muncul kembali gerakannya. Tentang benar atau tidaknya, namun PKI sudah menjadi musuh sekaligus ancaman laten bangsa. Karena luka yang ditorehkan meski telah setengah abad lalu namun masih menyisakan sakit yang ngilu.

Dulu ketika saya sekolah dasar setiap 30 September ada tugas untuk mereview film G30S-PKI. Saya ingat benar akan melihat film yang ditayangkan satu-satunya tv yaitu TVRI hanya bentar. Terlebih ketika penyaksikan yang dilakukan PKI kepada para Jenderal sampai kemudian dimasukkan ke lubang buaya. Untuk melengkapi tugas saya lebih senang mendengar cerita dari emak dan bapak yang mengalaminya. Mereka menceritakan bagaimana kampung kami yang damai kemudian menjadi mencekam karena ulah PKI. Nyawa orang yang beragama tiada harganya. Sampai- sampai kepala manusia jadi pajangan dijalanan sebagai cara PKI menunjukkan kekuasaan. Emak dan bapak pun menunjukkan ditempat mana saja PKI menunjukkan aksinya. Sehingga meskipun saya tak mengalami namun dari kisah kedua orangtua saya selalu ingat tentang PKI.

Sebagai seorang muslimah tentu tak ingin kekejaman yang dilakukan oleh PKI akan terulang lagi. Lebih- lebih keluarga atau anak keturunan kita yang menjadi korbannya. Untuk itulah bukan tentang melupakan sejarah yang bisa dilakukan tapi turut aktif secara preventif munculnya kembali PKI. Cara yang paling sederhana sebagai muslimah adalah menguatkan pendidikan agama baik pribadi maupun keluarga. Setidaknya dengan pondasi agama yang baik tak membuat anak terutama mudah ikut arus dalam pergaulan. Semoga kita selalu dalam lindunganNya. Amiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *