Friends

Aku, Bapak dan Kepergiannya


Setiap orang pasti ingin menemani orang yang dicintainya, terlebih jika orang itu adalah orang tua. Namun justru ketika orang yang dicintainya telah melepaskan kehidupan dunia untuk selamanya, justru tak dapat mendampinginya. Setidaknya kata maaf dan perpisahan hanya berupah kata hampa. Takdir lebih memilih jalannya sendiri kapan menjemput orang yang dikehendakinya.
Saya tahu betul keluarga tak akan menghubungi saya yang berada diluar kota jika bukan karena hal yang penting. Jika bapak hanya sakit, itu sudah terlalu biasa. Bahkan ketika Bapak untuk ke sekiannya masuk rumah sakit, saudara saya yang berada diluar kota akan dihubungi dengan catatan kata “bapak tidak apa”, dan “usahakan” untuk pulang. Semua itu lebih pada emak dan saudara saya yang lain yang dekat rumah berusaha untuk menyelesaikannya sendiri tanpa harus membuat bingung keluarga yang berada diperantauan. Tapi telpon kali ini mengisyaratkan saya harus pulang. Bahkan hari itu juga saya harus bersiap dan akan dijemput kakak saya yang menunggu kapalnya sandar.

 

Sebenarnya menunggu kakak saya datang rasanya seperti setahun yang lama. Tak pantas mengatakan andai, tapi seandainya saya boleh berandai maka jika saya dulu sudah berpengalaman seperti sekarang tanpa menunggu kakak saya akan pulang. Tapi justru ketika itu saya masih bau kencur dan anak gunung. Jangankan untuk jalan pulang, naik kendaraan umum pun jarang. Apa daya saya hanya bisa menunggu kakak saya datang yang bisa dipastikan mempunyai perasaan yang sama dengan sama ingin segera pulang.
Rasanya tubuh ini lunglai, nafas terhenti dan cahaya mata entah hilang kemana. Ketika kakak saya datang, sembari menguatkan serta mengabarkan kepergian bapak. Mengapa sekarang Pak, ketika saya belum bisa mengucapkan maaf dan terima kasih atau memeluk tubuh tua ringkih untuk terakhir kali. Dan sampai rumah, saya tak menemukan jasad itu lagi. Hanya kamar kosong dan kasur lusuh yang telah engkau tempat engkau mengahabiskan waktu setiap hari.
Jika saya boleh meminta rasanya tak adil bapak pergi setelah hanya seminggu saya tinggal pergi untuk sebuah cita-cita. Sebelumnya pun tak ada tanda. Jika pun sakit, bapak telah empat tahun setengah terkena stroke yang menyebabkan hanya bisa berada diatas kasur saja. Bahkan menurut cerita emak sebelum bapak meninggal, malah beliau kelihatan sangat sehat.
Pagi itu seperti biasa bapak mandi. Emak dan kakak ku lah yang menggendongnya. Sudah menjadi kebiasaan jika mandi bapak bisa sangat lama. Membersihkan seluruh anggota tubuhnya. Bahkan beliau selalu berkeinginan jika meninggal bisa bersih baik kondisi lahir maupun batin dan dalam khusnul khotimah. Dan setelah selesai mandi beliau tiba-tiba selayaknya terpejam tidur. Namun itulah tidur terakhir bapak di dunia ini. Karena selanjudnya bapak beristirahat untuk selama- lamanya disana. Mantri desa yang datang mengatakan bahwa bapak sudah stroke tahap 2, itu artinya sudah tidak ada harapan lagi. Betul setelah sejam selanjudnya bapak meninggal dunia.
Setelah meninggalnya bapak saya justru sering sekali bermimpi bapak masih ada, dan dalam kondisi sakit. Ada keinginan kuat saya untuk membantunya setiap dalam mimpi. Ada rasa penyesalan setelah bangun, dan apalagi saat teringat bahwa  tenyata bapak telah tiada. Saya kemudian membaca sebuah buku fiksi, yang intinya mengatakan kalau apa yang saya alami adalah bentuk ketidak-ikhalasan. Saya kemudian berkaca apa yang saya lakukan memang belum serapus persen melepas bapak. Jalan yang terbaik adalah melepasnya, mengikhlaskan dan terus mendoakan yang semoga bisa jadi amal jariyah bapak yang terus mengalir yaitu doa anak yang sholeh. Amiin
Saya seperti terkena karma terhadapa tantangan yang saya berikan kepada kelompok 1 BM Sisterhood Blogger Muslimah yang bertema “kejadian yang tak terlupakan”. Karena justru menyelesaikan tulisan ini saya lebih banyak berhenti, merenung dan mengingat bapak. Semogga tulisan ini bisa bukan saya tulisan saja tapi sebuah bentuk cinta dari seorang anak terhadap lelaki terbaiknya yaitu sang BAPAK.

1 thought on “Aku, Bapak dan Kepergiannya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *